June 13, 2014
Assalamualaikum…
Selamat sore menjelang malam…

Sebelum memulai postingan ini (padahal udah di mulai) tolong
bersihkan dulu pertanyaan tentang “Hubungannya judul di atas sama
astronomi apa?”. Hubungannya adalah tidak ada. Bercanda, hubungannya
tidak terlalu baik *eh. Sebenernya pendakian ini tidak begitu erat
dengan astronomi, hanya saja orang-orang yang menemani saya mendaki ke
puncak adalah orang-orang yang dekat dengan astronomi. Bisa di bilang
saya mendaki bersama teman-teman astro club saya.

Singkat kata singkat cerita, kami ada di dalam minggu ujian yang
sedikit rewel dan membosankan. Membosankan? Ya, karena jadwal ujiannya
gak mulus, sehari ujian sehari libur, sehari ujian lagi. Gak jelas lah
pokoknya. Akhirnya kami mengalami kebosanan dan kepenatan yang amat
sangat (terutama saya). Rasanya ingin jalan-jalan, refreshing gitu.
Bukannya malah refresh yang ada galau. Galau mau nentuin jalan-jalan
kemana. Tanya mbah google tempat wisata keren di Jember. Ada Papuma,
tapi sudah pernah sampai papuma. Ada Rembangan, tapi juga sudah pernah
bermalam di Rembangan. Banyak tempat yang lain tapi tidak tahu jalan
menuju ke sana. Semacam gak jelas dibuat jelas-jelas aja. Setengah hari
lebih kami berempat (pura-pura) galau nyari tempat tujuan.

Tiba-tiba di peralihan tengah malam, salah satu teman kami yang
paling sengklek, panggil saja bayu, mengajak untuk mendaki Gunung Ijen.
Dan tiga lainnya (termasuk saya) semacam ingin bilang ‘serius lo?’, eh
salah dua lainnya (ipul sudah molor duluan). Buat pemantapan saya tanya
lagi sama si bayu seriusan mau ke ijen atau nggak. Terus dia bilang
‘udah gak usah di bahas, kalau di bahas nanti gak jadi berangkat’. Yah
akhirnya saya iyain aja dengan syarat berangkat pagi. Waktu itu saya
minta berangkat jam 4 pagi. Si bayu ok ok aja tapi saya dan teman saya
(atul) di suruh calling dia jam 4 sampai dia bangun.

Sembari menunggu jam 4 pagi saya dan atul pun memilih untuk bubuk
ganteng *eh* bubuk cantik. Malam terlalu dengan beberapa mimpi yang
sedikit geje, kemudian saya sedikit terbangun sekitar pukul 3:00, dan
kemudian tertidur lagi, kemudian terbangun lagi pukul 03:16, dan
tertidur lagi, dan terbangun lagi pukul 4:30. Bangun melek (kata bayu,
melek = buka mata) lihat hp, langsung bangun. Bangunin si atul yang
kebetulan ikut tidur cantik di kosan saya. Dan kami berdua langsung
heboh. Langsung bagi tugas, atul nyiapin bekal, hair bangunin bayu dan
bang ipul, bang ipul ternyata sudah bangundan saat dikabarin bahwa kami
akan jalan-jalan ke kawah ijen dia seperti its ok wae. Tapi bayu masih
tetap tidur dengan nyenyak. Akhirnya atul ikut turun tangan untuk
calling si bayu. Sepertinya bagian persiapan ini harus di skip dari
cerita karena buang-buang waktu kalau di ceritain. Soalnya isinya cuma
bangunin si bayu.

Lanjut, akhirnya kami siap berangkat dari jember sekitar jam 7
kurang. Perjalanan menuju bondowoso. Berhenti sejenak di rumah saya
(saya asli bondowoso) untuk sarapan, kemudian perjalanan lagi menuju
ijen. Saya yang tinggal duduk tanpa nyetir dengan nikmatnya melahap
pemandangan yang sangat indah di sepanjang jalan menuju ijen. Sekitar
pukul 11:00 kami sampai di Paltuding. Paltuding adalah start awal
pendakian ijen. Bergaya seperti kuat mendaki gunung, padahal saya belum
pernah mendaki gunung. Ini pendakian pertama saya. Medan yang ditempuh
sungguh *uhuk* keren. Setiap berjalan 5-10 meter sepertinya saya selalu
minta istirahat. Dan saya adalah makhluk paling merepotkan saat
pendakian tersebut *blush*. Ya mau gimana lagi jalannya sungguh sangat
amat berat (menurut saya). Capek, haus, nafas tidak stabil. Tapi saya
bersyukur mereka (atul, ipul, bayu) menunggu saya dengan baiknya, meski
bayu sukanya jalan ngebut dan kadang kami bertiga di tinggal. Oh iya,
ini bukan hanya pendakian pertama saya, tapi pendakian pertama buat ipul
dan atul juga. Kalau bayu… Sudah tidak usah di tanya, dia memang sudah
biasa main di gunung. Kembali ke pendakian. Satu demi satu pos-pos mulai
terlewati. Beberapa kali kami bertemu para penambang belerang. Sambil
ngobrol-ngobrol, sambil jalan, sambil istirahat, sambil ngeluh ngeluh
(saya saja pada bagian ini). Akhirnya kami sampai di pos ke 4 pada pukul
12 siang. Kami beristirahat sebelum pendakian puncak. Makan mie seduh
dulu, terus buang air dulu, terus sholat dulu. Lucunya waktu sholat kami
tidak tahu arah kiblat. Tidak ada kompas (di hp juga tidak ada). Biar
berasa anak astro yang dipakai buat kompas adalah aplikasi skymap.
Alhamdulillah berfungsi. Setelah sholat kami lanjutkan pendakian. Jalan
dari pos 4 menuju puncak lebih menanjak, tapi tidak terlalu jauh
lintasan yang menanjak, sisa lintasannya kebanyakan mendatar. Sambil
menikmati pemandangan kami berjalan menuju kawah. Sekitar pukul 3 sore
kami berada di puncak, dan rasanya semua lelah saat pendakian hilang
seketika. Terbayar lunas dengan pemandangan kawah ijen yang sangat
menakjubkan. Kami menikmati suasana kawah sembari menikmati bekal dan
narsis-narsis ria. Setelah puas kami akhirnya kembali. Karena waktu
sudah semakin larut. Kami harus sampai di paltuding sebelum waktu ashar
habis. Saat mendaki saya yang paling menyusahkan, tapi saat menuruni
saya yang paling semangat. Di tengah-tengah perjalanan teman-teman
berkata ‘tadi siapa ya yang minta duduk istirahat di sini, di sini,
disini’. Seingat saya setiap ada batang pohon dan ada pos pemberhentian
saya selalu duduk untuk istirahat. Setelah sampai di paltuding kami
melakukan perjalanan kembali ke jember sembari mampir di masjid untuk
sholat. Perjalanan saat berangkat pemandangan begitu indah, dan saat
pulang perjalanan sangat menyeramkan. Tidak ada penerangan, tidak
terlihat jika ada lubang di jalan. Rasanya tadi yang indah tidak jadi
indah lagi, malah jadinya penuh ketegangan.

Itu hanya sebagian singkat cerita perjalanan menuju ijen. Masih
banyak cerita yang sepertinya tidak bisa saya tuangkan di sini, tapi
cerita itu selalu ada dalam ingatan saya. Semoga. Setelah pendakian ini
yang saya inginkan adalah… ayo mendaki lagi!!!

Saya ingin melihat indahnya seluruh pegunungan di indonesia.
Indonesia kaya akan hal itu bukan?
9 Juni 2014 yang takkan terlupakan.
Terimakasih Bayu Angga Dwi Cahyono, Hidayatul Fitriya, M. Syaiful Rizal Wicaksono.
Tolong bawa saya mendaki lagi, hehe…


Selamat sore menjelang malam…
Puncak Kawah Ijen
Air Terjun Belerang Sebelum Pendakian (dari depan : bayu, hair, ipul, atul)
Masih di Air Terjun Belerang
Air Terjun Belerang
Kawah Ijen
Jalan di Puncak Ijen
Saya ingin melihat indahnya seluruh pegunungan di indonesia.
Indonesia kaya akan hal itu bukan?
9 Juni 2014 yang takkan terlupakan.
Terimakasih Bayu Angga Dwi Cahyono, Hidayatul Fitriya, M. Syaiful Rizal Wicaksono.
Tolong bawa saya mendaki lagi, hehe…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar