Minggu, 04 Januari 2015

[8th Blog] Pertama Kali Mendaki : Kawah Ijen

June 13, 2014

Assalamualaikum…
Selamat sore menjelang malam…

Puncak Kawah Ijen
Sebelum memulai postingan ini (padahal udah di mulai) tolong bersihkan dulu pertanyaan tentang “Hubungannya judul di atas sama astronomi apa?”. Hubungannya adalah tidak ada. Bercanda, hubungannya tidak terlalu baik *eh. Sebenernya pendakian ini tidak begitu erat dengan astronomi, hanya saja orang-orang yang menemani saya mendaki ke puncak adalah orang-orang yang dekat dengan astronomi. Bisa di bilang saya mendaki bersama teman-teman astro club saya.

Air Terjun Belerang Sebelum Pendakian (dari depan : bayu, hair, ipul, atul)
Singkat kata singkat cerita, kami ada di dalam minggu ujian yang sedikit rewel dan membosankan. Membosankan? Ya, karena jadwal ujiannya gak mulus, sehari ujian sehari libur, sehari ujian lagi. Gak jelas lah pokoknya. Akhirnya kami mengalami kebosanan dan kepenatan yang amat sangat (terutama saya). Rasanya ingin jalan-jalan, refreshing gitu. Bukannya malah refresh yang ada galau. Galau mau nentuin jalan-jalan kemana. Tanya mbah google tempat wisata keren di Jember. Ada Papuma, tapi sudah pernah sampai papuma. Ada Rembangan, tapi juga sudah pernah bermalam di Rembangan. Banyak tempat yang lain tapi tidak tahu jalan menuju ke sana. Semacam gak jelas dibuat jelas-jelas aja. Setengah hari lebih kami berempat (pura-pura) galau nyari tempat tujuan.

Masih di Air Terjun Belerang
Tiba-tiba di peralihan tengah malam, salah satu teman kami yang paling sengklek, panggil saja bayu, mengajak untuk mendaki Gunung Ijen. Dan tiga lainnya (termasuk saya) semacam ingin bilang ‘serius lo?’, eh salah dua lainnya (ipul sudah molor duluan). Buat pemantapan saya tanya lagi sama si bayu seriusan mau ke ijen atau nggak. Terus dia bilang ‘udah gak usah di bahas, kalau di bahas nanti gak jadi berangkat’. Yah akhirnya saya iyain aja dengan syarat berangkat pagi. Waktu itu saya minta berangkat jam 4 pagi. Si bayu ok ok aja tapi saya dan teman saya (atul) di suruh calling dia jam 4 sampai dia bangun.

Air Terjun Belerang
Sembari menunggu jam 4 pagi saya dan atul pun memilih untuk bubuk ganteng *eh* bubuk cantik. Malam terlalu dengan beberapa mimpi yang sedikit geje, kemudian saya sedikit terbangun sekitar pukul 3:00, dan kemudian tertidur lagi, kemudian terbangun lagi pukul 03:16, dan tertidur lagi, dan terbangun lagi pukul 4:30. Bangun melek (kata bayu, melek = buka mata) lihat hp, langsung bangun. Bangunin si atul yang kebetulan ikut tidur cantik di kosan saya. Dan kami berdua langsung heboh. Langsung bagi tugas, atul nyiapin bekal, hair bangunin bayu dan bang ipul, bang ipul ternyata sudah bangundan saat dikabarin bahwa kami akan jalan-jalan ke kawah ijen dia seperti its ok wae. Tapi bayu masih tetap tidur dengan nyenyak. Akhirnya atul ikut turun tangan untuk calling si bayu. Sepertinya bagian persiapan ini harus di skip dari cerita karena buang-buang waktu kalau di ceritain. Soalnya isinya cuma bangunin si bayu.

Kawah Ijen
Lanjut, akhirnya kami siap berangkat dari jember sekitar jam 7 kurang. Perjalanan menuju bondowoso. Berhenti sejenak di rumah saya (saya asli bondowoso) untuk sarapan, kemudian perjalanan lagi menuju ijen. Saya yang tinggal duduk tanpa nyetir dengan nikmatnya melahap pemandangan yang sangat indah di sepanjang jalan menuju ijen. Sekitar pukul 11:00 kami sampai di Paltuding. Paltuding adalah start awal pendakian ijen. Bergaya seperti kuat mendaki gunung, padahal saya belum pernah mendaki gunung. Ini pendakian pertama saya. Medan yang ditempuh sungguh *uhuk* keren. Setiap berjalan 5-10 meter sepertinya saya selalu minta istirahat. Dan saya adalah makhluk paling merepotkan saat pendakian tersebut *blush*. Ya mau gimana lagi jalannya sungguh sangat amat berat (menurut saya). Capek, haus, nafas tidak stabil. Tapi saya bersyukur mereka (atul, ipul, bayu) menunggu saya dengan baiknya, meski bayu sukanya jalan ngebut dan kadang kami bertiga di tinggal. Oh iya, ini bukan hanya pendakian pertama saya, tapi pendakian pertama buat ipul dan atul juga. Kalau bayu… Sudah tidak usah di tanya, dia memang sudah biasa main di gunung. Kembali ke pendakian. Satu demi satu pos-pos mulai terlewati. Beberapa kali kami bertemu para penambang belerang. Sambil ngobrol-ngobrol, sambil jalan, sambil istirahat, sambil ngeluh ngeluh (saya saja pada bagian ini). Akhirnya kami sampai di pos ke 4 pada pukul 12 siang. Kami beristirahat sebelum pendakian puncak. Makan mie seduh dulu, terus buang air dulu, terus sholat dulu. Lucunya waktu sholat kami tidak tahu arah kiblat. Tidak ada kompas (di hp juga tidak ada). Biar berasa anak astro yang dipakai buat kompas adalah aplikasi skymap. Alhamdulillah berfungsi. Setelah sholat kami lanjutkan pendakian. Jalan dari pos 4 menuju puncak lebih menanjak, tapi tidak terlalu jauh lintasan yang menanjak, sisa lintasannya kebanyakan mendatar. Sambil menikmati pemandangan kami berjalan menuju kawah. Sekitar pukul 3 sore kami berada di puncak, dan rasanya semua lelah saat pendakian hilang seketika. Terbayar lunas dengan pemandangan kawah ijen yang sangat menakjubkan. Kami menikmati suasana kawah sembari menikmati bekal dan narsis-narsis ria. Setelah puas kami akhirnya kembali. Karena waktu sudah semakin larut. Kami harus sampai di paltuding sebelum waktu ashar habis. Saat mendaki saya yang paling menyusahkan, tapi saat menuruni saya yang paling semangat. Di tengah-tengah perjalanan teman-teman berkata ‘tadi siapa ya yang minta duduk istirahat di sini, di sini, disini’. Seingat saya setiap ada batang pohon dan ada pos pemberhentian saya selalu duduk untuk istirahat. Setelah sampai di paltuding kami melakukan perjalanan kembali ke jember sembari mampir di masjid untuk sholat. Perjalanan saat berangkat pemandangan begitu indah, dan saat pulang perjalanan sangat menyeramkan. Tidak ada penerangan, tidak terlihat jika ada lubang di jalan. Rasanya tadi yang indah tidak jadi indah lagi, malah jadinya penuh ketegangan.

Jalan di Puncak Ijen
Itu hanya sebagian singkat cerita perjalanan menuju ijen. Masih banyak cerita yang sepertinya tidak bisa saya tuangkan di sini, tapi cerita itu selalu ada dalam ingatan saya. Semoga. Setelah pendakian ini yang saya inginkan adalah… ayo mendaki lagi!!!

Saya ingin melihat indahnya seluruh pegunungan di indonesia.
Indonesia kaya akan hal itu bukan? ;)
9 Juni 2014 yang takkan terlupakan.
Terimakasih Bayu Angga Dwi Cahyono, Hidayatul Fitriya, M. Syaiful Rizal Wicaksono.
Tolong bawa saya mendaki lagi, hehe…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar